Suatu sore, seorang pemilik toko grosir menunjukkan website lamanya di layar ponsel. Tampilannya belum pernah diperbarui, formulir pesanan sering gagal terkirim, dan developer yang membuatnya sudah tidak bisa dihubungi.
Kasus seperti ini sering terjadi karena cara memilih web developer UMKM dilakukan terburu-buru, biasanya hanya berdasarkan harga atau rekomendasi sekilas. Padahal yang sering terlewat bukan kemampuan teknis, melainkan kesepakatan tentang apa yang dibangun, siapa yang memegang akses, dan bagaimana kerja sama dijalankan.
Ringkasnya:
- Tentukan kebutuhan bisnis sebelum membandingkan calon developer.
- Ajukan pertanyaan yang menguji cara kerja, bukan hanya kemampuan teknis.
- Pastikan kepemilikan akun, lingkup, dan jadwal tertulis di kontrak.
Cara memilih web developer UMKM dimulai dari masalah bisnis
Tulis dulu masalah yang ingin diselesaikan. Apakah website dibutuhkan untuk memperkenalkan usaha, menerima pesanan, atau menghubungkan stok dengan kasir? Jawaban ini menentukan jenis developer yang tepat. Usaha katering, misalnya, butuh halaman menu dan pemesanan yang cepat, sementara distributor biasanya butuh katalog dan alur permintaan yang rapi.
Pertanyaan yang menguji cara kerja developer
Developer yang baik biasanya tidak keberatan ditanya panjang. Yang perlu diperhatikan adalah apakah jawabannya konkret, bukan sekadar meyakinkan. Beberapa pertanyaan yang layak Anda ajukan:
- Siapa yang akan mengerjakan proyek ini, dan apakah ada pihak lain yang terlibat?
- Bagaimana progres dilaporkan, dan seberapa sering?
- Apa yang terjadi jika ada revisi di tengah pengerjaan?
- Setelah situs live, siapa yang mengurus hosting, domain, dan perbaikan jika ada masalah?
- Bisakah keputusan teknis dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami pemilik usaha?
Waspadai jawaban yang terlalu cepat dan yakin tanpa satu pun pertanyaan balik. Developer yang bertanya tentang tujuan bisnis Anda biasanya lebih layak dipercaya daripada yang langsung menyebut harga paket.
Portofolio yang layak dicek, dan cara mengeceknya
Portofolio tidak cukup dilihat dari tampilannya saja. Buka beberapa situs yang pernah dibuat, lalu periksa apakah situs itu masih berjalan normal. Sebagai gambaran tingkat detail yang wajar, Anda bisa melihat berbagai contoh proyek di halaman portofolio.
- Apakah situs bisa dibuka dengan lancar dari ponsel?
- Apakah ada proyek dengan kompleksitas yang mirip dengan kebutuhan Anda?
- Apakah fitur seperti formulir, keranjang, atau tombol WhatsApp benar-benar berfungsi?
- Apakah developer bisa menjelaskan peran mereka dalam proyek tersebut?
Hal yang harus jelas di kontrak sebelum mulai
Kontrak tidak perlu rumit, tetapi harus menjawab hal-hal yang paling sering menjadi sumber masalah. Dari pengalaman saya, perbedaan pemahaman biasanya baru terlihat ketika proyek sudah separuh jalan.
Website yang akunnya tidak berada atas nama usaha Anda sebenarnya belum sepenuhnya menjadi milik Anda.
Beberapa poin yang sebaiknya tertulis:
- Lingkup pekerjaan, termasuk halaman dan fitur yang tidak termasuk.
- Jumlah revisi yang disepakati dan cara mengajukannya.
- Jadwal dan tonggak (milestone) yang terkait dengan pembayaran.
- Kepemilikan domain, hosting, dan akses admin, atas nama siapa.
- Biaya tahunan setelah situs live, misalnya untuk hosting dan perpanjangan domain.
- Masa dukungan setelah go-live dan batas waktu perbaikan bug.
Jika developer enggan menuliskan hal-hal ini, itu sudah cukup menjadi alasan untuk berhati-hati. Anda tidak perlu menjadi ahli hukum untuk meminta kejelasan semacam ini.
Yang bisa Anda kerjakan minggu ini
Sebelum menghubungi calon developer mana pun, tulis tiga masalah bisnis yang paling ingin dibantu oleh website atau aplikasi. Setelah itu, kirimkan daftar tersebut ke dua atau tiga calon, lalu perhatikan seberapa jelas dan cepat mereka menjawab. Dari situ, Anda sudah punya gambaran yang jauh lebih nyata daripada sekadar membandingkan harga.
